Monday, April 28, 2014

Curahan Hati Seorang Guru, "Nak, Jadi Guru itu Berat, Tidak Gampang" ; Bahan Renungan Untuk Murid

Curhat+Seorang+Guru

Guru, sebuah profesi yang dahulu tak begitu dilirik. Guru, seperti hymne nya, "Pahlawan tanpa tanda jasa". Buat saya guru - guru saya adalah orang penting dalam hidup ini, karena gurulah saya bisa menjadi seperti saya yang sekarang. Menjadi guru itu tidaklah mudah, beban yang dipikul cukup berat. Kebanyakan orang - orang, apalagi murid - murid beranggapan menjadi seorang guru itu mudah. Hmh, dimulai curhatnya ya... Curhatnya akan saya kondisikan berdasarkan curhat guru - guru lain dan keseharian saya saat ini yang menjadi guru pengganti mata pelajaran Bahasa Inggris di sebuah SMP Negeri di Pontianak.
Nak, sungguh jadi guru itu sangat berat Nak..
Tahu tidak? Guru itu dituntut untuk bisa adil ke semua muridnya. Misalnya ngajar dari kelas VII A sampai VII F. Dimana satu kelas saja bisa sampai 35 orang murid. Guru yang hanya satu orang, punya tangan cuma dua, mulut hanya satu, harus meladeni berpuluh - puluh murid sekaligus dalam satu waktu. Coba bayangkan Nak, ketika kalian menuntut perhatian bersamaan, bertanya ataupun mengajak ngomong dalam waktu bersamaan, mana mungkin mulut guru yang hanya satu itu bisa menjawab dan meladeni semuanya sekaligus. Kalian mungkin tidak sadar akan hal ini, karena masing - masing kalian hanya memikirkan diri dan kepentingan kalian sendiri tanpa melihat situasi maupun kondisi yang ada. Ketika ada yang mau kalian tanyakan tapi saat itu guru sedang berbicara dengan salah seorang teman kalian, coba kalian tunggu sebentar, biarkan urusan teman kalian itu selesai, baru kalian memanggil ataupun datang bertanya. Sekali lagi karena mulut seorang manusia hanya satu. Ada kan tata kramanya, dimana kita tidak boleh memotong pembicaraan seseorang, karena itu tidak sopan. Kecuali kalau kalian sedang dalam lomba debat, memang diperbolehkan untuk memotong pembicaraan seseorang, tapi itupun ada aturannya, kalian harus mengangkat tangan dan meminta izin terlebih dahulu, kalau yang sedang berbicara memperbolehkan baru kalian bisa memotong pembicaraan tersebut. Seorang anak yang tahu sopan santun pasti paham :) Jadi jangan egois ya Nak, lihatlah situasi yang sedang terjadi, mengertilah gurumu. Karena Miss (panggilan saya di sekolah) sendiri, ingin kok bisa meladeni dan memperdulikan kalian semua, tapi Miss juga punya keterbatasan, kalau Miss bisa jurus kagebunshin no jutsu nya Naruto alias jurus 1000 bayangan pasti Miss lakukan, biar masing - masing dapat satu, jadi adil.


Kemudian, Miss dengar kalian ada yang protes dan bilang, "Miss tuh pilih kasih, masuk kelas lain marah terus, ndak pernah senyum, kalau kelas VII .... dibaikkan terus." Nah, memangnya kalian pernah liat Miss ngajar di kelas VII ...? Apa kalian tahu? Kelas VII ... kelas pertama Miss marah besar lho, sampai ada yang bilang, "Seram liat Miss marah, sampai bergegar dibuatnya."
Lagipula ketika kalian menuntut guru untuk bisa adil dan tidak pilih kasih, coba kalian lihat diri sendiri, keseluruhan kelas kalian dan teman - teman kalian. Apakah kalian juga sudah berperilaku baik? Tidak ribut? Duduk manis? dan apakah sudah menuruti apa kata guru? Karena Miss sendiri, saat berada di dalam sebuah kelas, dimana kelas itu murid - muridnya ribut, dikasi tahu baik - baik malah ngejek dan berperilaku tidak sopan (meleletkan lidah, menjawab dengan kata - kata yang tidak sopan), otomatis guru juga jadi kesal. Miss sebenarnya tidak tega kalau sampai harus marah dan membentak kalian, tapi dengan kenakalan kalian yang luar biasa naudzubillah, seperti saran dari guru-guru lain Miss harus marah, sampai memukul yang nakalnya sudah kelewatan pakai penggaris. Parahnya, sungguhpun sudah dipukul masih saja nakal. Bagaimana guru bisa betah? Mau menjelaskan pelajaran saja tidak bisa. Bayangkan setiap masuk kelas kalian, kalian nakal, tidak peduli dan ribut terus, saat harus masuk kelas kalian lagi guru pasti ada perasaan enggan, sehingga akhirnya bermuka masam dan bawaannya marah - marah terus. Nak, seseorang tidak akan marah kalau tidak ada penyebabnya, sadari itu. Kalian saja kalau Miss perhatikan, teman kalian mengganggu kalian sedikit saja, kalian langsung kesal dan memaki "Anjing jak kau nih." Iya kan? Ngaku deh.. Setiap hari kalau masuk kelas manapun, selalu ada yang begitu. Nah, kalian yang baru diganggu sedikit saja sudah kesal dan marah, bagaimana perasaan guru yang setiap hari tidak kalian anggap di kelas?
Ada seorang guru yang curhat di kantor, "Kelas VII ... tuh luar biasa nakal, saya mau jelaskan bah mereka ribut, saya sudah kasitau mereka baik - baik, Nak, di bawah sudah ribut karena ada acara kartini, kalau di kelas kalian juga ribut, siapa yang mau dengarkan? Eh mereka jawab hantu, bagaimana ndak kesal?". Saya yang dengar cuma bisa geleng - geleng kepala. Coba kalian fikir, sopankah seperti itu?
Tahu karma kan Nak? Karma berlaku lho. Kan tidak mungkin kalian kecil terus, suatu saat kalian juga akan besar, dewasa, mungkin juga ada yang nanti akan menjadi guru, tapi yang pasti nanti kalian akan menjadi orang tua, yang laki - laki jadi ayah, yang perempuan jadi ibu. Apa yang kalian lakukan sekarang, akan dilakukan anak kalian kelak. Nanti kalian akan merasakan kok apa yang kami para guru dan orang tua rasakan.
Mungkin kalian sekarang setelah membaca ini akan berfikir, "Mana duli", tapi percaya deh, suatu saat kalian akan menyesalinya.
Terakhir, Miss cuma mau bilang, Guru juga manusia, punya perasaan, bisa kesal, marah dan sebagainya. Kalau kalian ingin dihargai, maka hargai juga orang lain. Tau kan lagunya,hormati gurumu sayangi teman itulah tandanya kau murid budiman.
Tambahan kalau kalian pengen sama - sama Miss ke kantin, ajak jak Miss, kalau kalian pengen hunting sama - sama Miss, ajak jak Miss. Selama Miss bisa, pasti Miss iyakan kok. Jangan pernah iri dan bilang Miss pilih kasih kalau kalian sendiri saja ndak pernah ngajak.
Well, tugas dan kerjaan lain sudah menunggu, semoga kalian bisa paham dan mengerti ya?

0 komentar

Post a Comment